KUNJUNGAN STUDY KE PURA MANGKUNEGARAN

PURA MANGKUNEGARAN














Disusun oleh Kelompok 5:
1. Sri Handhina Y (M0508021)
2. Eska Sebayu Rian Putra (M0508039)
3. Noor Fitriana Hastuti (M0508059)
4. Adhike Noviyani (M0508079)
5. Elvin Kusuma Putra (M0508101)
6. Noviana Eka P (M0508111)



JURUSAN ILMU KOMPUTER
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009


Sejarah Singkat Mangkunegaran

Praja Mangkunagaran (atau Mangkunegaran) dibentuk berdasarkan Perjanjian Salatiga yang ditandatangani pada tahun 1757 sebagai solusi atas perlawanan yang dilakukan Raden Mas Said (atau Pangeran Sambernyawa, kelak menjadi Mangkunagara I) terhadap Sunan Pakubuwana III. Raden Mas Said mendapat wilayah yang mencakup sebagian dari bekas Mataram sisi sebelah timur, berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755). Jumlah wilayah ini secara relatif adalah 49% wilayah Kasunanan Surakarta setelah tahun 1830 pada berakhirnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Wilayah itu kini mencakup bagian utara Kota Surakarta (Kecamatan Banjarsari, Surakarta), seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar, seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri, dan sebagian dari wilayah Kecamatan Ngawen dan Semin di Kabupaten Gunung Kidul.
Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Pangeran (secara formal disebut Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, mirip dengan F├╝rst di Jerman) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Status yang berbeda ini tercermin dalam beberapa tradisi yang masih berlaku hingga sekarang, seperti jumlah penari bedaya yang tujuh, bukan sembilan seperti pada Kasunanan Surakarta. Setelah kemerdekaan Indonesia, Mangkunegara VIII (penguasa pada waktu itu) menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Secara tradisional penguasanya disebut Mangkunagara (baca: 'Mangkunagoro'). Raden Mas Said merupakan Mangkunagara I. Saat ini yang memegang kekuasaan adalah Mangkunagara IX. Penguasa Mangkunegaran berkedudukan di Pura Mangkunegaran, yang terletak di Kota Surakarta.
Para penguasa Mangkune-garan tidak dimakamkan di Astana Imogiri melainkan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, yang terletak di lereng Gunung Lawu. Perkecualian adalah lokasi makam dari Mangkunegara VI, yang dimakamkan di tempat tersendiri.
Warna resmi Mangkunagaran adalah hijau dan kuning emas serta dijuluki "pareanom" ('padi muda'), yang dapat dilihat pada lambang, bendera, pataka, serta sindur yang dikenakan abdi dalem atau kerabat istana.
Banyak masyarakat salah menyebut pura mangkunegaran dengan nama kraton mangkunegaraan. Sebenarnya mangkunegaran adalah sebuah pura bukan merupakan kraton. Karena, mangkunegaraan hanyalah tempat tinggal pangeran dan tidak ada singgasana raja disana. Kraton Mangkunegaran didirikan oleh RM. Said pada tahun 1725.

Halaman depan mangkunegaran

Dalam kunjungan kami ke Mangkunegaran, kami dipandu oleh seorang guide yang memang bertugas di sana. Untuk masuk ke dalam, kami diharuskan membayar Rp 2500 di bagian respsionis.
Komplek Mangkunegaran terbagi menjadi 5 bagian, halaman depan, pendopo agung, paringgitan, museum, balewarni, dan balepeni. Halaman depan berupa lapangan yang di tengahnya terdapat kolam ikan yang kondisinya kurang terawat.


Pendopo Agung


Pendopo ini didirikan pada tahun 1804. Saat masuk pendopo, banyak benda-benda kuno yang kami temui, ada patung harimau berlapis kuningan, lampu yang sangat kuno tapi tidak begitu terawatt karena banyak sarang burung diatasnya, langit-langit pendopo yang begitu artistic, dan . Kemudian yang juga sangat menarik perhatian adalah tiang pendopo.


Ada mitos mengatakan barang siapa yang tangannya sampai memeluk tiang utama di pendopo (ada 4 tiang terbesar dan berada di tengah-tengah pendopo) maka keinginannya akan tercapai. Percaya atau tidak, itu adalah mitos kuno yang merupakan bagian dari sejarah.
Kembali ke benda kuno tadi, di Pendopo terdapat gamelan-gamelan yang langka dan umurnya sudah tua, antara lain gamelan yaitu gamelan Kyai Seton, gamelan Kanyut Mesem, dan gamelan Lipur Sari, yang masing-masing dimain-kan pada saat-saat tertentu. Gamelan Kyai Seton berumur 3 abad. Gamelan ini ditabuh sebagai simbol kehormatan. Gamelan Kyai Kanyut Mesem adalah gamelan paling tua karena telah berumur 4,5 abad. Gamelan yang merupakan peninggalan kerajaan Demak ini ditabuh setiap Sabtu Pond an berfungsi untuk mengiringi tari-tari pusaka dan sakral. Gambar di samping adalah gambar kenong dari gamelan Lipur Sari. Gamelan ini ditabuh setiap hari Rabu untuk mengiringi anak-anak yang berlatih tari dan menyindhen.

PARINGGITAN



Setelah kami dipandu oleh guide di bagian Pendopo Agung, kami di bawa ke Paringgitan. Di Paringgitan, kami tidak boleh mengenakan spatu dan sandal, dengan kata lain, sepatu dan sandal harus kami lepas. Paringgitan meru-pakan bangunan yang berada di sebelah Utara Pendopo Agung. Sebenarnya Paringgitan ini berbentuk seperti teras joglo, maka dari itu Paringgitan sering digunakan sebagai tempat pertunjukkan wayang kulit.

Museum
Pura Mangkunegaran juga memiliki museum yang terletak di sebelah utara Paringgitan. Di dalam museum ini kami dilarang merokok, memakai sandal atau sepatu, dan juga memotret, karena itulah kami tidak memiliki foto tentang museum Mangkunegaran.
Di dalam museum tersebut, terdapat senjata pusaka, perhiasan dan pernak-pernik yang terbuat dari emas, dan arca-arca Budha serta guci-guci Cina.


Balewarni


Balewarni merupakan ruangan / tempat bagi para putri keturunan Mangkunegaran. Pada gambar di samping merupakan ruangan utama Balewarni. di bagian sampingnya terdapat beberapa kamar yang merupakan kamar putri. Di sana juga terdapat foto-foto keluarga mangkunegaran yang dipajang di meja di salah satu sudut Balewarni.





Balepeni


Balepeni merupakan tempat bagi para putra mangkunegaran. Berbeda dengan di Balewarni, di Balepeni kami dilarang masuk karena alasan privasi keluarga mangkune-garan. Sehingga kami hanya dapat memotret jalan menuju Balepeni-nya seperti gambar di samping.







Ruang Keluarga


Ruang keluarga terlihat seperti singgasana raja, namun bukanlah singgasana raja karena di Mangkunegaran tidak terdapat singgasana raja. Ruang keluarga ini digunakan sebagai ruang pertemuan keluarga-keluarga Mangkunegaran, misalnya ketika sedang ada rapat atau permasalahan yang perlu dibahas oleh semua anggota keluarga.
Lingga dan Yoni
Lingga dan Yoni ini terletak di halaman dalam di dekat ruang keluarga. Pada gambar di samping, batu yang berbentuk silinder itu merupakan Yoni yang melambangkan laki-laki, sedangkan yang berada di bawahnya dan terdapat cekungan merupakan Lingga, yang menggambarkan permpuan.


Benda Antik dari Luar Negri



Benda-benda antic dari luar negri ini dipajang di sebuah bengunan di sebelah Barat Balewarni. Berdasarkan cerita guide, benda-benda ini merupakan benda-benda yang dibawa oleh Mangkunegaran IV ketika dia sedang pergi ke negera lain seperti Italia dan China, atau juga karena pertukaran cinderamata dengan kerajaan lain dari negara lain.





Bangunan Bagian Museum


Teman kami berfoto dengan latar belakang sebuah bangunan. Bangunan ini masih menjadi bagian museum yang kita sebut di awal tadi. Pernak-pernik, perhiasan dan uang koin kuno berada di dalam museum tersebut.







Tempat Tinggal para Abdi Dalem


Para Abdi dalem bertempat tinggal di sekitar komplek kavallery dan artillery. Tempat ini dulunya digunakan sebagai gudang senjata dan kuda-kuda terlatih. Letak gudang ini berada di luar, tepatnya di lapangan dekat gerbang masuk sebelah Selatan Mangkunegaran. Bengunan ini terlihat kurang terawat karena memang sudah tua umurnya.





Sanggar Tari Soerya Soemirat


Di Mangkunegaran juga terdapat sanggar tari yang bernama sanggar tari Soerya Soemirat. Sanggar tari ini tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, melainkan juga para remaja putra dan putri yang tertarik dengan tari.
Mereka biasa berlatih di sebuah bangunan joglo sebelah Timur Mangkunegaran (lewat pintu Timur).
Tidak hanya tari tradisional, tari modern atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Modern Dance” juga dilatihkan di sana. Seperti terlihat pada gambar di samping, para remaja putri sedang berlatih dengan dipandu oleh seorang guru yang hampir seumuran dengan mereka.





Batik di Bagian Resepsionis
Di bagian resepsionis, selain terdapat para pegawai, di sana juga terdapat benda-benda unik dan kreatif yang bersifat tradisional. Benda-benda seperti misalnya batik dipajang di dekat pintu masuk resepsionis.



Berfoto Sebelum Pulang
Sebelum mengakhiri study lapang di Mangkunegaran, kami berfoto-foto terlebih dahulu bersama teman-teman. Seperti terlihat pada gambar di samping, kami berfoto di dekat kolam halaman depan Mangkunegaran dengan latar belakang bangunan yang digunakan sebagai tempat resepsionis.
Dengan demikian, kami merasa hal yang kami perlukan di sana sudah kami peroleh sehingga kami memutuskan untuk segera pulang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "KUNJUNGAN STUDY KE PURA MANGKUNEGARAN"

Posting Komentar